www.bundaran4News.com–PADA Tahun 2018, Seorang penelitian secara tepat dan jelas menyebutkan. Membacakan buku cerita dan disampaikan kepada generasi penerus, khusus untuk kalangan anak, bisa meningkatkan aliran darah (prefrontal) pada area otak (Yabe et. al) bagi generasi penerus yang bersangkutan.
Prefrontal area pada anak, merupakan bagian terdepan dari “lobus frontal”, berfungsi untuk membuat perencanaan, pemecahan masalah dan meningkatkan fungsi kognitif bagi anak yang bersangkutan.
Bercerita kepada anak, tidak hanya memberikan banyak manfaat secara edukasi dan psikologis. Namun, hal itu juga dapat membantu pola fikir anak memvisualisasikan atau mengaksalerasikan kata, bahkan kalimat yang diucapkan. Di satu sisi, hal itu akan menambah kosakata dan hal lainnya terkait komunikasi.
Penelitian ini juga menyebutkan bahwa kerja otak pada anak semakin bertambah saat buku yang dibacanya juga merupakan buku cerita bergambar. Apalagi jika, cerita bergambar yang dimaksud lengkap dengan animasi atau dalam bentuk lain.
Berikut adalah beberapa manfaat bercerita, yang disampaikan kepada generasi penerus, khusus bagi anak-anak usia dini. Jika dibandingkan dengan dunia pendidikan, anak-anak dimaksud masih belajar di tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), lebih khusus lagi di tempat penitipan anak yang ada di tengah masyarakat. disimpulkan:
Satu. Meningkatkan minat membaca. Orang tua dapat atau bisa memperkenalkan buku, dengan membacakan cerita untuk anak. Sehingg mereka akan terbiasa membaca buku saat usia semakin bertambah.
Namun, orang tua juga perlu memerhatikan jenis buku yang dibaca. Pastikan konten atau isi dari buku tersebut sesuai dengan usia anak.
Dua. Melatih kemampuan berbahasa anak. Si anak, dapat mengenal bahasa ibu atau yang digunakan sehari-hari melalui cerita yang didengarkan. Anak juga akan memiliki kosakata yang lebih banyak untuk digunakan nantinya saat berinteraksi dengan orang lain.
Penting untuk diketahui bahwa seiring berkembangnya usia anak, kosakata yang dimiliki pun seharusnya semakin banyak. Umumnya anak usia 12 bulan sudah memahami 5-6 kata, usia 18 bulan sudah memahami 10-20 kata termasuk nama-nama orang di sekitarnya, dan seterusnya.
Tiga. Menstimulasikan kognitif. Orangtua yang membacakan cerita untuk anaknya akan menstimulasi imajinasi bagi anak (generasi) yang bersangkutan.
Tidak hanya itu. Si anak, otomatis akan melatih daya ingatnya, mengenal hal-hal baru dari cerita dibacakan atau yang didengarnya. Di sisi lain, belajar menceritakan hal baru, akan memecahkan masalah yang dihadapi atau dia jumpai pada setiap harinya.
Empat. Meningkatkan rasa empati dalam diri setiap anak. Si anak akan dapat belajar untuk mengembangkan rasa empati, menilai hal baik dan buruk, serta banya hal lainnya yang nantinya akan membentuk kepribadian mereka. Untuk itu, penting bagi orang tua untuk membacakan cerita yang memiliki moral untuk dipelajari oleh anak.
Ternyata membacakan cerita, tidak hanya bermanfaat untuk akal dan kepribadian setiap anak. Kegiatan ini, pun bermanfaat bagi orang tua atau pengasuh yang membacakan buku cerita dimaksud.
Manfaat pertama adalah kegiatan ini dapat mempererat ikatan antara orang tua dan anak. Dengan membacakan cerita secara rutin untuk anak, kedekatan orang tua dan anak tentu akan meningkat.
Saat usia remaja dan dewasa nanti anak akan merasa nyaman untuk lebih terbuka kepada orang tua. Manfaat yang ke dua adalah dapat meningkatkan daya kreativitas orang tua atau pengasuh.
Saat membacakan cerita untuk anak tentu orang tua perlu membuatnya menjadi menarik agar anak tidak merasa bosan. Saat inilah kreativitas orang tua atau pengasuh akan terstimulasi.
Sebelum Anda mulai kegiatan bercerita, beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kegiatan ini dapat dilakukan dengan nyaman:
Pilihlah buku yang sesuai dengan usia anak agar mudah dipahami.
Tidak perlu memaksa anak untuk mendengarkan cerita saat anak sedang bermain, karena anak akan sulit untuk fokus saat energinya belum terkuras.
Orang tua dapat menggunakan properti atau benda sederhana yang ada di rumah sebagai alat bantu bercerita.
Tidak perlu terburu-buru dalam membacakan cerita. Anda juga dapat melakukan improvisasi pada alur cerita, asalkan moral cerita tidak dihilangkan.
Setelah kegiatan bercerita selesai, akhiri dengan sesi tanya jawab sederhana. Misalnya, siapa nama tokoh dalam cerita atau minta anak untuk menceritakan 1 tokoh favoritnya dari cerita.
Pastikan anak merasa senang dan menikmati waktu saat Anda atau orang tua membacakan cerita untuknya. Apabila dilakukan dengan terpaksa atau saat anak ingin melakukan hal lain, anak akan merasa saat membaca adalah hal yang tidak menyenangkan.
Hal tersebut justru akan membuat minat membacanya hilang. Umumnya kegiatan bercerita dilakukan saat anak hendak tidur atau saat anak memiliki waktu luang dan ingin mendengarkan cerita.
Apabila Anda atau orang tua membutuhkan saran atau masukan tentang menumbuhkan minat membaca pada anak, silakan berkonsultasi pada psikolog klinis anak yang ada di Kayross Psikologi Utama. (*)
Dari berbagai sumber…
Oleh : Gusmizar, S. Ag
Pranata Humas Ahli Muda
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pasaman Barat

























