Oleh : Gusmizar
Pranata Humas Ahli Muda Kantor Kementerian Agama Pasaman Barat, dan Praktisi Jurnalistik di Pasaman Barat
MANJALANG atau mengunjungi, ziarah dan silaturahmi ke rumah atau tempat pucuk adat, tokoh agama sekaligus tokoh masyarakat di daerah tertentu, adalah kegiatan tradisional yang tetap melekat dalam diri setiap warga, kelompok atau jemaahnya.
Hari Jumat, 10 Syawal 1445, bertepatan dengan tanggal 19 April 2024, warga Pasaman Barat, yang tergabung dalam berbagai institusi dan organisasi keagamaan dan kemasyarakatan secara bersamaan mengikuti acara “manjalang” pucuk adat Tuanku Bosa XV, Ir. Jhonny ZA di Rumah Godang Koto Dalam Talu, Kecamatan Talamau, Pasaman Barat.
Pada hari “manjalang’ pucuk adat Talu, Tuanku Bosa XV beberapa hari lalu. Kegiatan itu dihadiri Wakil Bupati Pasaman Barat, Risnawanto, Kepala Dinas Kominfo (Komunikasi dan Informasi) Pasaman Barat, Armen, Mantan Bupati Pasaman Barat, Yulianto, ketua bersama pengurus Pimpinan Daerah Muhammadiyah Pasaman Barat, ketua bersama pengurus Pimpinan Daerah Aisyiyah Pasaman Barat, dan undangan lainnya.
“Tepat hari ini, Jumat, 10 Syawal 1445, bertepatan 19 April 2024 masyarakat Pasaman Barat mengikut acara manjalang Tuanku Bosa XV, Jhonny ZA di Rumah Gadang Koto Dalam Talu Kecamatan Talamau”, kata Wakil Bupati, Risnawanto saat berada sekaligus ikuti acara ‘manjalang’ pucuk adat nagari Talu, Jumat kemarin.
Dari jajaran pemerintah Kecamatan Talamau, kegiatan “menjalang” pucuk adat sekaligus tokoh adat, tokoh agama dan tokoh masyarakat Pasaman Barat di Kecamatan Talamau,
dihadiri Camat bersama perangkatnya, unsur Forkopimca Talamau, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Talamau, Pj Wali Nagari Talu, Pj Wali Nagari Sungai Janiah Talu, Pj Wali Nagari Tabek Sirah Talu, Bamus, Niniak Mamak, Alim Ulama, Tokoh Masyarakat, Bundo Kanduang, dan cucu kamanakan tuanku bosa.
Setelah makan siang bersama, Heliswan, S.P., M.Si Sandaran Rajo selaku ketua panitia menyampaikan tujuan kegiatan, yakni agar silaturrahmi dalam rangka idul fitri tetap terjaga, dan ucapan terima kasih atas kehadiran para undangan, jika ada kesalahan dan kekhilafan dalam acara ini mohon dimaafkan.
Dalam sambutannya, Tuanku Bosa XV, Jhonny ZA, mengatakan, sangat penting nilai-nilai adat, tatakrama dan kuningan silaturahmi dilaksanakan setiap saat. Hal ini sebagai upaya merajut kebersamaan menguatkan persatuan untuk membangun kampung halaman, karena adat dan budaya sudah mengakar sejak lama warisan harus tetap dijaga untuk kebaikan semua.
Kemudian Dosen dari Jakarta itu, mengakui, catatan untuk mengembalikan kejayaan talu yang pernah populer sebagai pusat pendidikan, ekonomi dan budaya, namun selangkah demi selangkah hal ini juga harus kembali dirintis oleh tokoh-tokoh muda, dan berharap bersama bisa memajukan talu ke depannya.
“Kekuatan itu ada karena kebersamaan, walau berbeda pilihan ditahun 2024 tetap jaga kekompakan jangan terpecah belah, mari jalin silatutrahmi melangkah bersama membangun kampung halaman” ujarnya
Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Pasaman Barat, AIDA Eliza di tempat yang sama menyampaikan dan memberikan apresiasi yang tidak terhingga kepada Tuanku Bosa XV, selaku tokoh adat, karena telah besinergi membantu pemda membersamai program program kabupaten untuk masyarakatnya, karena dengan dukungan tokoh adat program bisa dilaksanakan.
Pemerintah daerah dan berbagai institusi yang ada, termasuk Aisyiyah bersama keluarga besar Muhammadiyah se Pasaman Barat akui tokoh adat adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, tanpa tokoh adat program pemda tidak akan berjalan semestinya.
“Negara belum ada Adat sudah ada, Kerajaan sudah membina masyarakatnya, dan jika ada perwakilan dari talu yang duduk di parlemen atau pemerintahan pasaman barat bisa membantu membuat program unggulan seperti pendidikan dan pertanian yang orientasinya untuk kepentingan masyarakat, ujarnya.
Sebetulnya, masyarakat yang dihadiri Bupati Pasaman Barat, Hamsuardi bersama pihak terkait yang lain, juga mengikuti acara ‘manjalang” di tokoh agama Pasaman Barat di Lubuk Landur, Nagari Aur Kuning, Kecamatan Pasaman.
Puncak “manjalang’” guru di Lubuk Landur, serangkai dengan hara raya Puasa Enam bulan Syawal. Kegiatan bersifat tradisional ini dilakukan pada setiap tahun dan berada dalam bulan Syawal pada setiap tahun seperti pada beberapa hari lalu. (*)


























