Pembangunan Jalan Tol Untuk Konektifitas Ekonomi Sumbar

Oleh: H. Mahyeldi, SP

(Gubernur Sumatera Barat)

bundaran4news.com—-Dalam kerangka makro-ekonomi, sarana transportasi terutama jalan dan jembatan merupakan punggung tulang perekonomian baik regional maupun lokal, di perkotaan maupun di pedesaan.

Kita diketahui bersama sistem transportasi memiliki sifat sistem jaringan dimana pelayanan transportasi sangat dapat diakses oleh Integrasi dan keterpaduan jaringan jalan. Sarana transportasi memegang peranan penting dalam aspek sosial ekonomi melalui fungsi distribusi antara daerah satu dengan daerah lain. Distribusi barang, manusia, dan lain-lain akan menjadi lebih mudah dan cepat bila sarana transportasi yang ada berfungsi baik sehingga transportasi dapat menjadi salah satu sarana untuk mengintegrasikan berbagai wilayah.

Setiap daerah memiliki potensi yang berbeda-beda, baik itu sumberdaya alamnya maupun potensi yang lain. Disamping itu, kebutuhan manusia untuk memenuhi kehidupannya selalu berubah. Hal inilah yang membuat transportasi sangat penting bagi kita karena belum tentu semua kebutuhan itu terdapat di daerah-nya. Faktor inilah yang mempengaruhi manusia dan barang untuk pindah dari satu tempat ketempat yang lain.

Jaringan jalan memiliki fungsi dan manfaat yang terklasifikasi menjadi beberapa bagian penting, yaitu melancarkan arus barang dan manusia dan menunjang perkembangan pembangunan.

Pembangunan Jalan Tol Padang – Pekanbaru yang merupakan salah satu segmen dari jaringan terintegrasi tol Sumatera akan meningkatkan pertumbuhan industrialisasi berbagai sektor.

Meningkatnya pertumbuhan industrialisasi karena lancarnya arus orang dan barang tentu akan meningkatkan transaksi ekonomi yang berujung kepada pertumbuhan ekonomi di wilayah Sumatera Barat.

Dalam hal ekonomi, keberadaan Jalan Tol Padang – Pekanbaru ini akan meningkatkan pula beberapa hal berikut, Pertama, dimasa pembangunan, kalau kita pakai ilustrasi buletin Khazanah Nasional (2006) pada saat pembangunan Jalan Tol Cipularang, sepanjang 58 km, yang mencakup biaya sekitar 1, 6 triliun rupiah dan 100 persen dikerjakan oleh tenaga lokal. Proyek pembangunan ini melibatkan 50 ribu tenaga kerja. Selain menyerap jumlah tenaga kerja yang banyak, pembangunan Jalan Tol Cipularang juga meningkatkan nilai konsumsi melalui penggunaan 500 ribu ton semen, 25 ribu ton besi beton, 1,5 juta m3 agregat, dan 500 ribu m3 pasir. Kita dapat membayangkan, pembangunan Jalan Tol Padang – Pekanbaru dengan skala lebih besar, dalam masa pembangunannya saja sudah memberi gambaran dampak ekonomi yang sangat besar.

Kedua, setelah pembangunan selesai, arus barang lebih lancar maka bahan baku (pertanian, perkebunan, hasil industri dan tambang) dan lain-lain yang diangkut dari lokasi ekploitasinya meningkat, demikian juga hasil produksi yang diangkut ke konsumen meningkat dan ini tentu akan meningkatkan transaksi ekonomi .

Ketiga, perluasan wilayah produksi sumber bahan baku dan wilayah pemasaran hasil produksi karena akses lebih mudah dan murah juga akan meningkatkan transaksi ekonomi.

Keempat, sarana transportasi yang lancar akan meningkatkan mobilitas orang dan barang yang meningkatkan berbagai sektor seperti pariwisata, perdagangan, pertambangan, jasa dan sektor lainya.

Kelima, Teluk Bayur yang berada di pantai barat Sumatera dan langsung bergabung dengan India, jazirah arab dan Afrika yang saat ini sedang berkembang ekonominya dan membutuhkan bahan pertanian, perkebunan dan pertambangan dari Indonesia akan berkembang menjadi Pelabuhan Besar, karena hasil bumi (pertanian, perkebunan, perkebunan, pertambangan dan industri lainnya) yang berada di wilayah timur sumatera, akan lebih mudah diekspor melalui Pelabuhan Teluk Bayur, pelabuhan yang ada di bagian timur karena harus melewati Selat Malaka atau Selat Dunda terlebih dahulu.

Keenam, dicari arus barang tentunya akan meningkatkan secara signifikan volume ekspor yang berujung penambahan devisa negara serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat.

Ketujuh, titik diatas akan membuat daya saing propinsi Sumatera Barat meningkat, investasi di sumatera barat akan semakin menarik dan tentunya membuka lapangan kerja bagi masyarakat sumbar.

Dapat kita bayangkan Jika Jalan Tol Padang – Pekanbaru yang merupakan jaringan tol terintegrasi dengan jaringan tol Sumatera ini semakin lama terhalang pengerjaannya atau bahkan batal, maka Sumatera Barat berada di sebuah Pulau Terpencil tanpa akses ke jalur transportasi utama, yang tentunya mengakibatkan kita akan tertinggal jauh dari Propinsi-propinsi lain di seluruh sumatera.

Jika kita melilhat keberadaan jalan tol luar negeri, jalan (tol) memang menjadi salah satu kunci percaya Eropa dan Tiongkok memacu ekonominya sekaligus memeratakan pembangunan, dan memajukan daerah-daerah terpencilnya. Jalan tol membuat Eropa dan Tiongkok bisa mengeksploitasi kemampuan ekonomi daerah sehingga negeri menopang itu menjadi raksasa ekonomi dunia. 

Wilayah Malaysia yang lebih sempit dari Indonesia saja yang memiliki rasio panjang jalan tol 3,008 kilometer per satu juta penduduk, sementara Indonesia hanya 126 kilometer per satu juta penduduk. 

Angka ini lebih jauh jika dibandingkan dengan rasio jalan tol di Jepang yang 9,422 km per satu juta penduduk. Wilayah Indonesia mencapai 1,9 juta km persegi dengan penduduk 260 juta orang. Padahal wilayah Malaysia hanya 329,8 ribu kilometer persegi dengan penduduk 28,3 juta jiwa. Kemungkinan akses jalan inilah yang membuat tanggung jawab antar daerah di Indonesia lebih lebar dari Malaysia. 

Namun agak berbeda di Amerika Serikat, pembangunan jalan bebas hambatan antar negara bagian (Interstate Highways) menjadi kunci utama perkembangan sektor perkotaan Amerika Serikat. Jauh sebelum moda transportasi jalan raya berkembang, sistem perkeretaapian menjadi kunci perkembangan sektor perkotaan di Amerika Serikat. Untuk itu disamping Pembangunan Jalan Tol, kita juga harus mendorong percepatan reaktivasi kereta api Sumatera Barat, dan melanjutkan rencana jalan pintas jalur kereta api Padang – Solok yang pernah menjadi program strategis nasional, namun terhenti dalam tataran dokumen perencanaan teknis. Jika dua sarana transportasi ini terwujud (jalan tol dan kereta api), insya Allah Sumatera Barat akan menjadi propinsi dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat baik di masa depan. 

Sebuah studi yang dilakukan oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FE-UI) menarik tentang dampak pembangunan infrastruktur transportasi terhadap pertumbuhan ekonomi, menunjukkan hasil yang. Hasil studi ini menyatakan bahwa kenaikan stok jalan sebesar 1persen akan menaikkan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,8 persen.

Disamping sisi positifnya, dampak negatif yang menjadi sumber sumber daya dalam pembangunan jalan adalah penggunaan lahan yang kemungkinan berdampak pada tata ruang dan lahan pertanian. Kemudian pembangunan jalan tol akan membuka kawasan pemukiman dan industri baru yang secara langsung juga akan mengurangi luas lahan pertanian. Kita berharap semua dampak tersebut tentu sudah ada antisipasinya di dalam dokumen amdal pembangunan jalan tol ini.

Dampak positif lainnya adalah, dengan adanya jalan tol maka lokasi-lokasi dekat pintu keluar-masuk jalan tol akan berkembang cepat sebagai kawasan perumahan, bisnis, industri, perdagangan, jasa keuangan, perbankan dan lain sebagainya. Banyak bukti yang menunjukkan jalan tol turut memajukan ekonomi daerah dan mempersibuk kegiatan bisnis, terbukanya lapangan kerja dan meningkatkan aktivitas ekonomi rakyat bahkan transaksi sosial. 

Seperti yang terjadi di Bandung pasca beroperasinya jalan tol Cipularang. Sebelum jalan tol ini beroperasi, perjalanan tercepat dari Jakarta ke Bandung memerlukan waktu 3 jam. Saat itu Bandung belumlah semetropolis sekarang. Tetapi sekarang kota ini menjadi lebih sibuk, lebih banyak gedung menjulang, dan dikerumuni sentra-bisnis seperti komentar Jakarta. Situasi yang sama juga terlihat di Madura, setelah beroperasinya jembatan tol Suramadu. Ini membuktikan bahwa akses tol mampu mendongkrak ekonomi dengan baik.

Pembangunan Jalan Tol Padang – Pekanbaru ini akan kita integrasikan dengan rencana jalan arteri baik jalan propinsi mapun jalan kab / kota. Sehingga harga tanah menjadi tinggi, dan masyarakat yang mempunyai peluang lebih banyak ekonomi dan usaha di lingkungannya. Pembangunan Jalan Tol Padang – Pekanbaru diharapkan juga bisa disinergikan dengan seluruh sistem agribisnis disepanjang jalan tersebut. Dengan demikian pembangunan jalan tersebut justru akan mengangkat potensi sektor pertanian dipedesaan sepanjang jalan baru. Area peristirahatan (rest area) yang dipersiapkan oleh jalan tol yang juga berfungsi sebagai sarana perdagangan kami minta harus diutamakan untuk masyarakat yang terkena dampak langsung dari pembangunan jalan Tol ini, sehingga dampak negatif dari pembangunan ini dapat kita tekan seminimal mungkin.

Kelambatan memperbaiki lahan yang saat ini lebih disebabkan oleh kesimpang siuran informasi yang diterima oleh masyarakat yang menyebabkan masyarakat kehilangan kepercayaan kepada Pemerintah. Untuk mengatasi masalah tersebut, Pemerintah Propinsi Sumatera Barat akan mengoptimalkan komunikasi dengan masyarakat yang terkena dampak serta semua pemangku kepentingan, untuk menjelaskan dengan terang benderang bagaimana manfaat yang akan diperoleh jika pembangunan jalan ini dapat dilaksanakan dengan cepat. (*)