www.bundaran4newws.com—-Tidak ada manusia di muka bumi ini yang sempurna dan bersih dari dosa. Sudah takdir manusia sebagai anak Adam untuk berbuat salah dan lupa, seperti yng tertuang dalam hadis berikut,
“Setiap anak Adam itu mempunyai kesalahan, dan sebaik-baik orang yang mempunyai kesalahan ialah orang-orang yang banyak bertaubat.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Allah SWT menciptakan manusia dengan segala kelemahannya yang mana mampu untuk menggiring mereka ke jalan yang tidak benar yaitu dengan melalaikan perintah-perintah-Nya. Namun seperti yang dapat dilihat dari hadis diatas bahwa sebaik-baik orang bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, namun orang-orang yang sering bertaubat memohon ampunan kepada-Nya.
Oleh sebab itu, di Bulan Ramadhan yang penuh ampunan ini kalian sebagai manusia yang berlumur dosa hendaknya mensucikan diri dengan bertaubat dan membuka lembaran baru yang lebih baik. Bermuhasabah diri atau introspeksi diri sangat membantu dalam bertaubat. Dengan mengetahui dosa-dosa yang telah kalian perbuat, kalian mampu memperbaikinya dan berubah menjadi hambanya yang lebih bertaqwa.
Di tengah-tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, hendaknya kalian semakin giat untuk bermuhasabah. Renungkan dosa-dosa yang telah kalian perbuat dan bertaubatlah memohon ampunan kepada Allah SWT agar kalian senantiasa dilindungi dari segala macam kemudaratan.
Pintu ampunan Allah terbuka lebar di Bulan Suci ini, doa hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh mustahil untuk tidak di dengar dan besar sekali kemungkinannya untuk dikabulkan. Kalaupun belum dikabulkan, Allah pasti memiliki rencana lebih indah dari itu. Di momen seperti inilah waktunya kalian untuk memohon ampunan sebanyak-banyaknya dan berdoa agar tetap istiqomah di jalan-Nya. Teruslah perdalam iman dan taqwa. Teruslah memperbaiki diri dan bermuhasabah, sejatinya hisab orang yang telah menghisab dirinya sendiri di dunia lebih ringan daripada mereka-mereka yang lalai akan kesalahannya sendiri, seperti yang pernah dikatakan Umar radhiallahu ‘anhu,
“Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia” (HR. Tarmidzi)
Lalu bagaimana cara agar dapat senantiasa introspeksi diri?
1. Tanamkan “Kebenaran Hanya Milik Allah Semata”
Orang yang sulit introspeksi diri adalah orang-orang yang lupa bahwa kesempurnaan dan kebenaran hanyalah milik Allah. Mereka merasa bahwa mereka adalah manusia yang paling benar sehingga tidak perlu melakukan introspeksi diri. Padahal manusia adalah tempat segala dosa berlabuh. Oleh sebab itu tanamkan pikiran bahwa kalian adalah manusia biasa yang tak luput dari dosa agar kalian dapat senantiasa merendah, serta memperbaiki diri.
2. Jadikanlah Kritik Orang Lain Sebagai Kritik yang Membangun
Tak sedikit dari hamba Allah yang merasa kesal ketika mendapat kritik dari orang lain. Sering kali ketika mendapat kritik, kalian merasa bahwa orang yang mengkritik kalian terlalu suka ikut campur dan ‘sok tahu.’ Orang yang bijak adalah orang yang mampu mengambil pelajaran dari kritik yang dilontarkan oleh orang-orang tersebut dan menjadikannya sarana untuk mengintrospeksi diri dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Janganlah kalian merasa bahwa kalian adalah orang yang paling benar sampai enggan menerima saran dari orang lain.
3. Luangkan Waktu Untuk Menyendiri Bermuhasabah
Sholat malam adalah waktu yang tepat untuk merenungkan segala dosa yang telah kalian perbuat. Beristighfarlah setelah kalian mengingat segala perbuatan dosa kalian, dan tanamkan dalam pikiran kalian untuk tidak mengulangi hal-hal buruk itu lagi. Karena manusia ditakdirkan sebagai makhluk pelupa dan senantiasa mengulang perbuatan dosanya, maka berdoalah selalu kepada Allah agar mampu istiqomah sehingga tidak kembali tersesat ke jalan yang bathil.
Dengan bermuhasabah atau mengintrospeksi diri kalian dapat menjalin hubungan yang baik dengan orang-orang disekitar. Hal itu dikarenakan sifat kalian yang selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran serta tidak merasa paling benar sendiri. Dengan bijaksana dalam menerima kritik dan saran, hati juga menjadi lebih tenang karena jauh dari rasa sakit hati dan berburuk sangka.
Penulis : Siscia Friska Aprillita Fajrya


























